Advertising

Loading...

Langkah Langkah Kongkrit Menuju Bisnis Aviasi yang Sehat

Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737
Sultan Iskandar Muda Internasional Airport Aceh
©Image Copyright Ihsanush Shabri

Tanggapan dari Om Arif Rahmat Muharram dari Group WhatsApp Aviasi Photos Community Mengenai Artikel di website https://www.infopenerbangan.com/menuju-bisnis-aviasi-yang-sehat-1/

Izin bertanya dan  komentar sedikit dari artikel itu..

"harga avtur"

Sudahkah Garuda selaku BUMN memanfaatkan sinergi BUMN dengan Pertamina Aviation?

Selama ini Sinergi BUMN menurut saya agak unik kalau tidak dibilang aneh.

Sinergi dengan Pegadaian, di mana Pegadaian jual produk tabungan emas di Garuda, Garuda jual tiket di Pegadaian.

Padahal main problem di avtur. Sinergi BUMN bagaimana ya? Kan enak nih sama sama BUMN

"Kalau harga listrik naik apa harus datangkan PLN asing, tidak demikian bukan"

Di artikel ini disamakan dengan Eropa. Di eropa listrik banyak providernya.

Tergantung kita mau provider apa. bisa saja tidak pilih provider A karena menurut kita perusahaannya pakai batu bara, batu bara tidak ramah lingkungan. Atau pilih B karena murah dan pakai solar cell

"Amerika/Eropa lebih memilih mobil buatan mereka sendiri, meski lebih mahal dibanding mobil Jepang, ini terkait aspek nasionalisme."

Di amerika kok kalo saya masukkan keyword "top selling car in america" di Google yang keluar:

The top five sellers for 2018 were all from Japanese manufacturers. In order, they were the Toyota Camry, Honda Civic, Toyota Corolla, Honda Accord and the Nissan Sentra.

Lagian di Amerika tidak ada flag carrier. 

Di Eropa kalau mau membahas nasionalisme. Inggris dan Spanyol sudah rival sejak lama. Tapi maskapainya merger dalam IAG yang berkedudukan di Madrid.

Belgia (Brussel Airlines), Swiss (Swiss International), Austrian, semua dalam Lufthansa Group. 🤔

Lagian maskapai asing yang dimaksud bukan freedom of the air 7,8,9 kan ya.

Tapi maskapai asing masuk dalam badan berupa PT dan pesawat beregistrasi PK- untuk terbang di domestik.

_"Pemerintah dan regulator penerbangan Indonesia harusnya bisa mengambil sikap yang menguntungkan Indonesia, sekaligus dalam rangka melindungi kepentingan udara dan integritas udara nasional"_

IMO, regulator dalam hal ini Kemenhub harusnya fokus ke regulasi saja, tidak sampai campur tangan ke bisnis.

Lagian sudah ada Kementrian BUMN kan. Sudah ada Menko Ekonomi.

Perlindungan sabotase juga udah jelas. Maskapai asing hanya boleh kepemikikan 49% dalam maskapai nasional.

"menguatnya mata uang rupiah"

Agaknya Bank Indonesia selaku regulator sudah menghitung berapa nilai tukar Rupiah yang optimal.

Karena pada kenyataan nya adalah mata uang juga sangat berimbas kepada bisnis lain, tidak hanya penerbangan kan.

"insentif biaya bandara dan navigasi."

Apakah maskapai nasional sudah berjuang sekuat tenaga melawan AP/AirNav? AirAsia baru baru ini mengajukan tuntutan pengadilan karena MAVCOM dianggap wanprestasi dengan tarif yang dikenakan ke penumpang. KLIA 2 dianggap terlalu mahal untuk fasilitas yang ada.

Just my 2 cents. 

0 Response to "Langkah Langkah Kongkrit Menuju Bisnis Aviasi yang Sehat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Loading...